Saat pasukan elite TNI AU latih jurnalis meliput medan perang
Elshinta.com, Suasana Kompleks Komandan Batalyon 461 Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, bak daerah konflik pada Kamis (15/12).
Elshinta.com - Suasana Kompleks Komandan Batalyon 461 Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, bak daerah konflik pada Kamis (15/12). Empat kendaraan taktis (rantis) terlihat mondar-mandir, baku tembakan dan granat menggelegar sejak pagi sampai siang.
Namun, semua hanyalah dalam rangka latihan yang sejatinya tak asing dilakukan bagi prajurit Kopasgat. Bedanya, latihan kali ini diikuti oleh tiga puluh jurnalis dari berbagai media, baik televisi, cetak, maupun dalam jaringan (daring). Mereka mengikuti kegiatan bertajuk Outbound Media Dirgantara 2022 yang digelar selama dua hari sejak Rabu (14/12).
Awalnya, para jurnalis mengikuti latihan menembak menggunakan senapan laras panjang SIG Sauer berkaliber 5,56 buatan Amerika Serikat. Setiap jurnalis dimodali lima amunisi. Perwira Seksi Logistik (Pasilog) 461 Kopasgat Letda Aceng Rudianto mengatakan, senjata tersebut sejatinya digunakan untuk pertempuran dalam ruangan.
"SIG Sauer ini (cenderung) simple. Seperti (misalnya) sedang patroli jurnalis ikut TNI, tiba-tiba, mohon maaf, TNI-nya meninggal dunia, terus harus kalian gunakan. Gampang," kata Aceng seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Rama Pamungkas, Jumat (16/12).
Setelah mendapat pelatihan menembak, peserta mengikuti patroli menggunakan rantis yang disimulasikan mendapat penghadangan dan penyergapan dari musuh. Setiap peserta wajib melengkapi diri dengan body armor dan helm antipeluru.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Dispenau) Marsma Indan Gilang Buldansyah mengatakan, pihaknya berupaya menciptakan situasi saat jurnalis meliput di medan konflik.
Para jurnalis juga diberikan pengalaman patroli jalan kaki dari prajurit Kopasgat untuk mengetahui cara bertindak, berlindung, dan bergerak di lapangan jika harus bertugas di daerah yang rawan. "Dijelaskan cara berlindung, mengambil gambar yang aman pada saat situasi seperti itu," jelas Indan.
"Terakhir diberikan pengalaman pertempuran jarak dekat yang mengondisikan bagaimana teman-teman jurnalis tetap aman pada saat terjadi pertempuran jarak dekat," sambungnya.
Menurut Indan, pengetahuan dan keterampilan dasar meliput di medan perang itu penting dimiliki jurnalis. Apalagi, konflik di dunia saat ini tidak terelakkan. Keputusan untuk menggelar latihan di Kopasgat pun bukan tanpa alasan. Sebagai pasukan khusus milik TNI AU, prajurit Kopasgat turut dilatih dengan kemampuan matra angkatan darat.
"Dia (Kopasgat) punya kemampuan pertahanan pangkalan, kemampuan infanteri, sehingga kami melihat Pasgatlah yang paling tepat untuk memberikan pelatihan kepada teman-teman jurnalis," tandas Indan.